• Pilih Bahasa :
  • indonesian
  • english

HIMAIKOM adakan Commbattle Periklanan 2018

  • Terakhir diperbaharui : Jumat, 12 Oktober 2018
  • Penulis : Hendrik Okta Ardhani, S,Kom
  • Hits : 91

Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAIKOM), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), UPN “Veteran” Jakarta kembali melaksanakan Commbattle 2018. Commbatle yang dilaksanakan 4 Oktober 2018 tersebut merupakan acara lomba pembuatan poster iklan dengan tema “Media Sosial dan Fenomena Masyarakat Dewasa Ini”. Lomba tersebut diikuti oleh mahasiswa baik dari internal UPN “Veteran” Jakarta, maupun dari luar UPN “Veteran” Jakarta.

“Lomba membuat poster pada Commbatle tahun 2018 ini memilih 8 finalis yang mempresentasikan karya mereka di depan juri Bapak Djito Kasilo, seorang praktisi periklanan di Indonesia, setelah 8 peserta ini memaparkan karya mereka dan dinilai oleh juri, maka terpilih 3 pemenang lomba Commbatle,” jelas Azwar, M.Si., Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP, UPN “Veteran” Jakarta.

Azwar, M.Si., dalam sambutannya pada acara tersebut juga menyampaikan bahwa acara Commbattle 2018 yang diselenggarakan HIMAIKOM tersebut merupakan pesta kreativitas mahasiswa dan juga wahana untuk mendorong lahirnya karya-karya kreatif dari mahasiswa. Menurut Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi tersebut, acara ini ke depan semestinya lebih ditingkatkan baik dari sisi kuantitas penyelenggaraan apalagi kualitasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Djito Kasilo juga menyampaikan nasihat-nasihat kepada peserta dan juga anggota HIMAIKOM tentang mentalitas seperti apa yang harus dimiliki oleh pekerja periklanan. Menurut Djito, pekerja periklanan mesti memiliki kepekaan pada dinamika sosial kemasyarakatan.

“Yang akan kamu ajak bicara isi otaknya apa, kamu hanya bisa mengetahui itu kalau kamu jeli mengamati situasi sosial,” terang Djito saat ditemui pasca perlombaan Commbattle yang digelar di Gedung Moh. Yamin UPN “Veteran” Jakarta pada Kamis (4/10) tersebut.

Pria yang berprofesi sebagai konsultan komunikasi pemasaran ini menilai bahwa pekerja periklanan mesti mencari cara membangun relevansi produknya dengan masyarakat. Ia harus membuat seolah-olah produknya adalah solusi bagi problematika yang dialami orang-orang.

“Misalnya mahasiswa aktif, ditawari lemper. Akhirnya lempernya mengatakan ‘lemper ini membuatmu beraktifitas lebih baik karena mengandung energi yang tinggi’. Bukan ‘ini lemper enak’. Yang kita tawarkan bukan lemper lagi, tapi sebuah [sumber] energi.”

Menurut pria yang juga berprofesi sebagai pencipta lagu anak-anak ini, masalah yang banyak dialami calon-calon pekerja periklanan adalah absennya masalah sosial pada karya yang mereka buat. “Ada yang problemnya enggak jelas, ada yang jelas tapi pesannya kurang tersampaikan. Ada juga yang keduanya jelas, tapi tidak menawarkan solusi apa-apa.”

Menentukan solusi atas suatu permasalahan sosial memang bukan tanggung jawab pekerja periklanan. Absennya hal ini tidak lantas membuat karyanya urung diterima. Tapi, karya yang seperti ini, menurut Djito, tidak lah komplit. “Ini lho realitas yang terjadi. Terus what’s next? Pesan kita gak tersampaikan [sepenuhnya],” katanya. (M. Berlian)

IMG_6173.JPG
IMG_6018.JPG
Djito_Commbattle_2018.JPG
Informasi

Newsletter

Daftar sekarang untuk menerima berita terkini, lowongan kerja, dan informasi lainnya.

Follow Us On

f