• Pilih Bahasa :
  • indonesian
  • english

Menyorot Kegiatan Inkubasi Para Penyebar Semangat Literasi

  • Terakhir diperbaharui : Senin, 15 April 2019
  • Penulis : RIYANA PUTRI NURKHALISA
  • Hits : 336

gemari_baca_4.jpg

FISIP UPNVJ - Pagi hari yang cerah setelah semalaman diguyur hujan, menyambut para calon Duta Gemari Baca. Jumat (5/4/2019) sekitar pukul 08.00 WIB diprediksi sebanyak 26 peserta datang dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka akan menjalani masa Inkubasi Duta Gemari Baca Batch 5. Dengan mengusung tema “Literaksi: Bukan Sekadar Narasi,” masa Inkubasi Duta Gemari Baca Batch 5 diselenggarakan dari 5-7 April 2019 di Lembaga Pengembangan Insani, Parung, Bogor, Jawa Barat.

Akan tetapi, setelah dipantau yang datang sebanyak 23 peserta. Terdiri dari 17 perempuan dan 6 laki-laki. Rata-rata peserta yang datang berasal dari kalangan mahasiswa/i atau pun yang sudah lulus sekolah tingkat kejuruan. Mereka berhasil mengalahkan kurang lebih sekitar 85 peserta lainnya. Lewat seleksi berkas dan wawancara maka terpilih lah 26 peserta dan yang bersedia untuk ikut acara Inkubasi Duta Gemari Baca Batch 5 sebanyak 23 peserta.

Adapun 23 peserta itu berdatangan dari penjuru wilayah Indonesia. Ada yang datang dari Medan (Sumatera Utara), Palembang (Sumatera Selatan), Riau, Banten, Jakarta, beberapa daerah di Jawa Barat, Semarang (Jawa Tengah), Yogyakarta, Palu (Sulawesi Tengah), dan Lombok (Nusa Tenggara Barat).

Mereka yang terpilih memang memiliki dasar untuk dapat menyebarkan semangat literasi di masyarakat. Salah satu yang menjadi parameter mereka bisa lolos seleksi yakni di samping usianya tergolong muda juga karena tergabung dalam komunitas literasi atau taman baca masyarakat (TBM).

Tak pelak semangat menyebarkan literasi itu terpancar di wajah para calon duta literasi. Dari kamar penginapan yang berada di lantai tiga, Marlina Ayuningtias, selaku Ketua Pelaksana acara ini menyampaikan pesan via aplikasi chatting untuk segera datang ke Aula dan melakukan registrasi terlebih dahulu.

Para calon Duta Gemari Baca kala itu masih sedang asyik-asyiknya bersenda gurau. Saling melempar guyonan sembari sarapan nasi yang berwadahkan sterofoam. Kubu pria lebih dominan ketimbang wanita dalam hal berseloroh. Tertawa menjadi kenikmatan tersendiri.

Perbedaan bahasa maupun budaya yang ada justru menjadi ladang bagi para calon duta supaya saling mengenal satu sama lain. Perbedaan bukan menjadi penghalang untuk bersatu dan para calon duta telah membuktikannya. Senyum dan tawa menghiasi pagi yang dinaungi cerahnya sinar mentari.

Seusai sarapan dan berbincang, para calon duta langsung turun menuju aula. Mereka berbaris, satu per satu mengisi pendaftaran yang terdiri dari: nama, asal daerah, instansi, nomor handphone, alamat e-mail, dan tanda tangan. Setelah registrasi, masing-masing calon duta mendapatkan goodie bag yang berwarna hijau dan putih. Di bagian warna hijau goodie bag tersebut tepatnya di sudut kanan atas tertulis, “Dompet Dhuafa,” dan kemudian ada pesan yang berbunyi, “Mengangkat Martabat, Meneguhkan Pengabdian.”

Jelas, bahwa acara Duta Gemari Baca ini diinisiasi oleh Dompet Dhuafa Pendidikan. Dalam buku Jurnal Harian yang peserta dapatkan di dalam goodie bag telah diterangkan, Duta Gemari Baca yang diinisiasi sejak tahun 2016 kini telah menginjak angkatan (batch) keempat dengan jumlah anggota sekitar 70 orang, di mana mereka aktif di 27 komunitas literasi maupun TBM dari berbagai daerah di Indonesia. Tahun 2019 divisi Jaringan Literasi Dompet Dhuafa Pendidikan kembali membuka kesempatan bagi pemuda-pemuda di seluruh Indonesia untuk bergabung menjadi bagian Duta Gemari Baca Batch 5.

Barang tentu, pasti ada yang melatarbelakangi digelarnya program Duta Gemari Baca ini. Jika menilik dari Buku Jurnal Harian, alasannya karena tingkat budaya literasi di Indonesia masih rendah. Tingkat literasi Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara (Most Literate Nation in the World, 2016) dan minat baca hanya 0,1 % atau dengan kata lain dari 1.000 orang hanya 1 yang membaca (UNESCO, 2012).  Inilah mengapa Program Duta Gemari Baca yang kini menginjak angkatan ke-5 dihelat. Diharapkan para Duta Gemari Baca mampu kembali ke derah masing-masing dengan menciptakan inovasi gerakan literasi di daerahnya dalam meningkatkan kesadaran literasi masyarakat.

Lanjutnya, para calon duta pun duduk di tempatnya masing-masing. Saling membentuk kelompok di tiap mejanya. Mereka siap melewati hari yang cukup melelahkan. Seharian duduk kemudian menyimak apa yang dibicarakan pemateri. Tapi untungnya, acara tersebut diselingi juga oleh canda-tawa serta berbagai tepukan penyemangat. Dan kudapan yang tersedia seperti aneka kue dan kopi menjadi bahan bakar agar para calon duta tetap bergairah untuk menyimak.

Materi pertama dimulai ketika jarum jam menunjuk angka sembilan. Mulyadi Saputra, Manajer Jaringan Sekolah Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan menjadi pembicara dalam materi penanaman value. Penanaman value atau nilai di sini, terkait dengan nilai-nilai yang dianut oleh Dompet Dhuafa Pendidikan. Nilai tersebut berupa: Synergy (sinergi), Persistance (tekun), Innovative (inovatif), Care (peduli), Continous Improvement (perbaikan berkelanjutan), dan Trustworthy (dapat dipercaya). Semua nilai itu diakronimkan menjadi satu kata: SPIRIT.

Dari kata SPIRIT ini, para peserta pun memeragakan gerakan yang mencerminkan nilai-nilai SPIRIT dari Dompet Dhuafa Pendidikan tersebut. Dengan semangat para calon duta memeragakan gerakan itu. “Keep on Your Spirit!” teriak para calon Duta dengan semangat.

Pada kesempatan tersebut, Mulyadi menuturkan bahwa para Duta Gemari Baca merupakan perwakilan generasi Milenial dan mereka diharapkan dapat mengetahui serta menebarkan semangat literasi masyarakat dan membangun simpul jejaring komunitas literasi di Indonesia.

Berikutnya lanjut ke materi manajemen komunitas dan relawan. Direktur Turun Tangan, Andi Angger Sutawijaya, menjadi pematerinya. Dalam ceramahnya, Angger melakukan pemetaan, khususnya pada permasalahan yang kerap dialami sebuah komunitas. Permasalahan itu seperti soal dana (finansial), komitmen para anggota/relawan yang semangatnya hanya pas awal gerakan tetapi seiring berjalannya waktu semangat itu kendur, kemudian cara untuk menyelesaikan konflik dan membangun suasana kekeluargaan dalam komunitas.

“Workshop ini akan menjadi bekal untuk para duta, mereka adalah harapan bangsan ini. Saya yakin mereka mampu membangun komunitas dan jaringan luar biasa kelak. Saya percaya Duta mampu menjadi motor penggerak dalam mengembangkan komunitas dan relawan di komunitasnya masing-masing,” ucap Angger seperti yang dikutip dari makmalpendidikan.net.

gemari_baca_1.jpg

Design Social Development (Model Pembangunan Sosial) menjadi materi yang selanjutnya dibahas. Manajer Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa Pendidikan, Eko Sriyanto mengutarakan segala pandangannya seputar model pembangunan sosial. Menurut dia, sebuah komunitas mesti pahami dulu apa saja masalah yang terjadi di komunitas atau TBM yang di kelola oleh masing-masing peserta. Selepas itu, susun rencana yang ingin dilakukan melalui customer thinking, fleksibilitas, dan validitas ide.

Tak ketinggalan pula, menurut Eko, sebuah komunitas juga perlu tahu apa yang dibutuhkan masyarakat sehingga ide-ide yang dikeluarkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kita akhirnya mendapat kepercayaan dari mereka (masyarakat).

Tak terasa, azan magrib berkumandang. Materi Model Pembangunan Sosial pun usai. Para peserta langsung keluar ruangan Aula untuk salat atau pun rehat sejenak. Setelah waktu menunjuk sekitar pukul 19.30 WIB, tatkala mentari telah tenggelam dan langit kini berwarna gelap. Pembahasan berlanjut ke soal menulis.

Manajer Dompet Dhuafa Pendidikan, Muhammad Syafi’ie el-Bantanie menjelaskan materi tentang kepenulisan. Asyiknya Menulis, itulah yang terpampang dalam presentasinya tersebut. Menurut dia, menulis hanya memerlukan satu persen bakat dan selebihnya lebih mengandalkan latihan.

Untuk menjadi penulis yang andal maka mesti menjadikan aktivitas menulis sebagai suatu kebiasaan. Kemudian, Syafi’ie juga menjelaskan bahwa ada fase dalam proses menghasilkan sebuah tulisan, yakni memproduksi dan merevisi. Kata dia, penulis yang baik harus mampu menempatkan dirinya sebagai penulis-penyunting-pembaca.

Penulis mesti fokus terlebih dahulu dalam mengeluarkan gagasannya, jangan diutak-atik (diedit) dulu tulisan tersebut hingga selesai. Kemudian, lanjut ke proses penyuntingan (edit) dan terakhir dibaca ulang. Dia juga menerangkan alasan kita mesti menulis, yaitu karena menulis mengikat ilmu dan juga sebagai sarana berdakwah dengan tulisan.

Lanjutnya, kebiasaan penulis menurut dia: banyak membaca, hobi merenung, senang mengamati, suka berdiskusi, dan menulis tiap hari. Perihal menggali ide, penulis bisa meraihnya dengan menuliskan pengalaman hidup, instuisi (bisikan hati), dan mengamati alam, peristiwa, dan masyarakat.

Malam kian pekat. Sekitar pukul 21.00 WIB materi hari pertama usai sudah. Kini kembalilah mereka ke ruang penginapan. Dan lanjut di keesokan harinya, Sabtu (6/4/2019). Singkat cerita, yang menarik pada hari kedua ada yang namanya acara Fun Literacy Activity. Para calon Duta Gemari Baca Batch 5 digiring menuju TBM Warung Baca Lebakwangi (Warabal) yang berlokasi di Jalan Kamboja No. 71 RT 01/01, Kampung Saja, Desa Pemagarsari, Parung, Kabupaten Bogor. Lokasinya tak terlalu jauh. Kurang lebih sekitar 5 Km dari Lembaga Pengembangan Insani.

Saat berkunjung ke taman baca Warabal, suasana literasi yang ditandai dengan banyaknya buku yang berjejer di rak begitu kuat. Kiswanti, dia lah yang mendirikan taman baca masyarakat Warabal. Pada salah satu dinding ada tiga artikel yang berasal dari harian The Jakarta Post yang meliput dirinya. Artikel tersebut dibingkai dan ditempel ke dinding itu. Lalu, di bawahnya ada sederet penghargaan/piala untuk Kis, sapaan akrabnya.

Di sana, para calon duta gemari baca, berjumpa dengan Euis Nurhayati, dari Komunitas Media Pembelajaran (Komed). Dia menjelaskan beberapa masalah yang terkait dengan rendahnya budaya literasi di Indonesia. Menurut Euis, ada beberapa kendala yang membikin minat literasi masyarakat Indonesia rendah, yaitu akses buku yang sulit, buku yang disodorkan tidak sesuai, tidak adanya buku yang bagus untuk anak, dan tidak adanya peran pemerintah.

Berbicara literasi, imbuh dia, ada dua jenis literasi: literasi visual dan literasi sains. Literasi visual adalah kemampuan untuk menginterpretasi dan memberi makna dari sebuah informasi yang berbentuk gambar sedangkan literasi sains yakni kemampuan menggunakan pengetahuan (Sains).

Kegiatan setelah pemaparan tersebut, para calon duta gemari baca langsung menerapkan secara konkret dengan memberi pengajaran kepada anak-anak di setiap TBM. Empat kelompok langsung di sebar ke pelbagai TBM. Dan mereka mesti mengatur siasat agar aktivitas mengajar bisa efektif dan tidak membuat anak-anak bosan.

Minggu, 7 April 2019 di Perpustakaan Cinta Baca, Bogor, para calon duta gemari baca menjalani hari terakhir masa inkubasi. Barang tentu, kala itu mereka akan resmi dilantik sebagai Duta Gemari Baca Batch 5. Di lantai dua perpustakaan modern tersebut, yang sebelumnya dihadiri oleh Direktur Dompet Dhuafa, Bambang Suherman, Pengelola Perpustakaan Cinta Baca, Sunandar,  Pendiri TBM Warabal, Kiswanti dan beberapa perwakilan dari Duta Gemari Baca Batch 1,2,3, dan 4.

Manajer Jaringan Sekolah Indonesia, Mulyadi Saputra melantik ke-23 calon Duta Gemari Baca Batch 5. Penyerahan sertifikat menjadi simbol pelantikan tersebut. Wajah para Duta berseri-seri. Kebanggaan seolah terpatri dalam diri mereka. Jepretan kamera siap mengabadikan momen itu, senyum lebar dan wajah semringah menghiasi mimik para duta.

“Kami selaku pengelola menunggu kiprah nyata dari kakak sekalian, jangan sampai kegiatan inkubasi selama  tiga hari ini menguap begitu saja. Kami doakan kakak-kakak bisa merealisasikan atau bisa mengimplementasikan apa-apa yang sudah didapat selama tiga hari di Bogor ini,” ucap Manajer Jaringan Sekolah Indonesia, Mulyadi Saputra setelah melantik 23 duta tersebut.

Sekitar pukul 15.00 WIB acara selesai. Pasca pelantikan para duta saling berkumpul. Sekadar mengucapkan salam perpisahan karena mesti pulang ke daerah masing-masing atau pun berfoto ria. Mengabadikan momen ini untuk dikenang nanti. Bahwasanya mereka pernah menjadi bagian dari perjuangan untuk meningkatkan budaya literasi masyarakat Indonesia. Perpisahan itu pun disambut hujan  deras. Sebagian duta pulang dan sebagian lagi menunggu di perpustakaan. Entah menunggu hujan reda atau meratapi nasib kalau mereka bakal berpisah.

(Penulis: Ardhi Ridwansyah, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, UPNVJ angkatan 2016)

Informasi

Newsletter

Daftar sekarang untuk menerima berita terkini, lowongan kerja, dan informasi lainnya.

Follow Us On

f