• Pilih Bahasa :
  • indonesian
  • english

Tantangan dan Peluang Lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi dalam Industri Digital di Era Disruptif

  • Terakhir diperbaharui : Rabu, 08 Mei 2019
  • Penulis : RIYANA PUTRI NURKHALISA
  • Hits : 589

wahyu_aji_2.JPG

FISIP UPNVJ - Perkembangan teknologi di Era Disrupsi telah mempengaruhi berbagai bidang, diantaranya adalah di bidang pendidikan dan ketenagakerjaan. Pada era ini, individu semakin dituntut dengan skill yang terfokus pada satu bidang dan menjadi ahli didalamnya karena kebutuhan pasar sekarang ini lebih memusatkan pada output, sehingga masyarakat harus mulai berbenah dan memiliki orientasi pekerjaan yang akan bertahan sampai 10 tahun kedepan.

Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta menggelar Lokakarya dengan tema “Tantangan dan Peluang Lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi dalam Industri Digital di Era Disruptif”. Pada kesempatan tersebut, Wahyu Aji selaku pembicara mengatakan kecanduan teknologi telah menjadi wabah yang dialami oleh semua kalangan termasuk anak- anak dan remaja yang kesehariannya selalu dipenuhi dengan gadget. Internet telah memberikan akses yang mudah pada informasi yang dibutuhkan. Media sosial menjadi salah satu sarana yang paling sering digunakan oleh orang-orang masa kini karena media sosial memudahkan masyarakat untuk berkomunikasi dengan orang yang terkendala jarak dan waktu.

wahyu_aji.JPG

Dengan berbagai kemudahan yang ada, dunia kerja pun semakin meningkatkan kualitas perusahaan dengan memilah-milih SDM yang berkualitas untuk direkrut. Hal ini menjadi tantangan bagi perguruan tinggi sebagai lembaga yang mendidik dan meluluskan SDM yang siap bekerja. Maka dari itu, Wahyu sempat menyampaikan beberapa keahlian yang akan sangat dibutuhkan pada tahun 2020, yaitu: Complex problem solving, critical thinking, creativity, people management, coordinating with offers, emotional inteligance, judgement and dessicion making, service orientation, negotiation, dan cognitive flexibility.

Terakhir, Wahyu menceritakan pengalamannya selama proses rekrutmen karyawan dalam tiga tahun terakhir. Menurut Wahyu, mayoritas perusahaan dalam merekrut karyawan saat ini lebih mempertimbangkan jejak digital, skill yang dimiliki, pengalaman organisasi serta kemampuan memecahkan permasalahan, khususnya bagi perusahaan start up yang langsung berorientasi pada output, kadang kala tidak melihat pendidikan tapi lebih melihat skill yang dimiliki.

wahyu_aji_4.JPG

wahyu_aji_3.JPG

Informasi

Newsletter

Daftar sekarang untuk menerima berita terkini, lowongan kerja, dan informasi lainnya.

Follow Us On

f