FisipUPNVJ – Literasi digital menjadi isu sentral dalam diskusi publik bertajuk “Bridging the Gap: Digital Literacy for Empowering Community Intelligence” yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta. Kegiatan ini merupakan perwujudan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, yang dilaksanakan melalui pendekatan edukasi berbasis komunitas. Kegiatan pengabdian ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas kognitif dan kritis masyarakat dalam mengelola informasi di tengah disrupsi digital yang ditandai oleh fenomena post-truth. Literasi digital dalam forum ini dipahami sebagai upaya memperkecil kesenjangan digital melalui jalur pendidikan informal berbasis komunitas, dengan fokus pada penguatan kesadaran regulasi media, etika digital, serta perilaku pencarian informasi yang bertanggung jawab.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu (17/01), pukul 09.00 WIB hingga selesai, bertempat di Ruang Diskusi Lantai 3 Masjid Jami Karangkajen, Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta. Ruang komunitas tersebut dipilih sebagai lokasi strategis untuk mendekatkan diskursus literasi digital dengan pengalaman sosial masyarakat. Forum diskusi dirancang terbuka dan partisipatif agar peserta dapat mengaitkan isu digital dengan konteks keseharian mereka. Dengan pendekatan ini, literasi digital diposisikan sebagai praktik sosial yang hidup di ruang publik.
Kegiatan ini terselenggara melalui kerja sama antara Forum TBM Kota Yogyakarta, FISIP UPN “Veteran” Jakarta, dan Ruang Binari. Marina Rospitasari, S.Kom.I., M.Si., Founder Ruang Binari sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UPN “Veteran” Jakarta, membuka forum dengan menekankan bahwa literasi digital adalah praktik sosial yang hidup di ruang publik. “Komunitas harus mengambil peran sebagai first filter atau penyaring pertama. Kekuatan kita bukan pada kecanggihan perangkat, melainkan pada kemampuan kolektif untuk mengidentifikasi hoaks dan pelanggaran privasi sebelum mereka menjadi konsumsi publik,” jelasnya. Narasumber lainnya, Dosen CPNS Ilmu Politik, Chomariyana Kartika Hesti, S.A.P., M.S.P., turut mengulas pentingnya kesadaran regulasi dan etika digital dalam membangun kewarganegaraan digital yang sehat.
Sementara itu, Dosen CPNS Sains Informasi, Dyah Ayu Kusuma Dewandaru, M.A., memaparkan strategi implementasi literasi digital di jalur pendidikan informal. Menurutnya, terdapat empat pilar utama yang perlu diperkuat, yakni Digital Skills, Digital Culture, Digital Ethics, dan Digital Safety. “Literasi digital yang efektif adalah yang mampu memicu aktivisme komunitas melalui pendekatan narasi (storytelling) dan edukasi sebaya. Kita ingin komunitas tidak hanya pasif menyaring konten negatif, tapi aktif memproduksi konten positif yang bernilai budaya,” paparnya. Melalui kegiatan ini, literasi digital ditegaskan sebagai upaya kolektif yang menuntut pemahaman hukum digital, kesadaran atas hak dan batasan diri, serta partisipasi kritis masyarakat di ruang siber, dengan komunitas sebagai fondasi ketahanan informasi di era digital.
Dekan FISIP UPNVJ, Dr. S. Bekti Istiyanto, M.Si., menegaskan bahwa penguatan kecerdasan komunitas menjadi bagian penting dari mandat akademik perguruan tinggi. “Literasi digital tidak dapat dilepaskan dari pembangunan kualitas demokrasi dan daya kritis masyarakat. Melalui pengabdian berbasis komunitas, FISIP UPNVJ memastikan keilmuan sosial dan politik hadir untuk menjawab persoalan riil masyarakat,” ujarnya.
Wakil Dekan I FISIP UPNVJ, Dr. Azwar, M.Si menambahkan bahwa pendekatan inklusif menjadi kunci efektivitas program literasi digital. “Strategi literasi digital yang inklusif memungkinkan komunitas memahami hak, kewajiban, serta batasan dalam ruang siber. Pendekatan ini juga memperkuat relevansi kurikulum dengan dinamika sosial digital yang terus berkembang,” katanya.
Koordinator Program Studi S1 Ilmu Komunikasi FISIP UPNVJ, Uljatunnisa, S.I.P., M.A. juga mengapresiasi pendekatan kolaboratif yang digunakan. “Keterlibatan aktif dosen dan mahasiswa dalam isu literasi digital di Karangkajen ini sejalan dengan visi prodi untuk menciptakan dampak sosial. Kami ingin memastikan bahwa transformasi digital tidak meninggalkan siapa pun di belakang.” tuturnya.
