FisipUPNVJ—Salah satu dosen Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jakarta Fullah Jumaynah, S.Sos., M.I.P, menjadi salah satu narasumber dalam webinar nasional dan diskusi publik peringatan hari Kartini yang digelar oleh organisasi Anak Semua Negeri (ASN). Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, (23/04) secara daring.
Webinar bertema “Perempuan dan Ekologi: Mewarisi Semangat Kartini, Merawat Kelestarian Bumi” ini menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang berbeda. Selain Fullah Jumaynah, hadir pula Ning Nafidaih Inarotul Huda dari Al Badriyyah Islamic Eco-Dormitory PP Cipasung, serta Muazim, pegiat dari Mitra Wacana. Ketiganya mendiskusikan keterkaitan antara perjuangan perempuan dan pelestarian lingkungan hidup di Indonesia.
Sebagai akademisi ilmu politik, dalam kesempatan tersebut Fullah Jumaynah membawa perspektif kebijakan publik dalam membedah posisi perempuan di tengah krisis iklim. Ia menyoroti bahwa meski perempuan kerap menjadi kelompok yang paling terdampak bencana lingkungan, suara mereka justru sering absen dalam proses pengambilan keputusan kebijakan.
“Krisis iklim bukan sekadar isu lingkungan, melainkan juga isu keadilan. Perempuan berada di garis terdepan dampaknya, namun sering kali absen dari pengambilan keputusan. Sudah saatnya perspektif perempuan menjadi bagian tak terpisahkan dari kebijakan ekologi nasional,” jelas Fullah.
Anak Semua Negeri mengangkat isu ini sebagai respons atas situasi lingkungan Indonesia yang kian mengkhawatirkan. Perempuan, terutama di kawasan pedesaan dan daerah rentan, kerap menjadi pihak yang paling menanggung dampak dari degradasi lingkungan dan bencana alam akibat perubahan iklim.
Kehadiran dosen ilmu politik dalam forum ekologi ini bukan tanpa alasan. Fullah merupakan pengajar yang mendalami politik lingkungan dan gender, dua bidang yang langsung menyentuh inti persoalan: mengapa isu perempuan dan krisis ekologi kerap gagal masuk ke agenda politik nasional, meski urgensinya sudah tak terbantahkan.
Diskusi publik ini diikuti oleh lebih dari dua puluh organisasi mahasiswa, komunitas pemuda, dan gerakan perempuan dari berbagai daerah. Di antaranya Koalisi Perempuan Indonesia, Gerakan Muda Melawan, hingga sejumlah BEM perguruan tinggi. Azaz Fauzan, S.H., M.H., Presiden ASN, menyebut kegiatan ini bagian dari visi “Membangun Indonesia dari Pinggir” mendorong perubahan dari kelompok yang selama ini terpinggirkan.
Kerabat Kerja
———————–
Penulis: Fullah Jumaynah, S.Sos., M.I.P
