FisipUPNVJ – Program Studi Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) menghadiri Seminar Internasional dalam rangka memperingati UN Peacekeeper Day. Kegiatan yang mengusung tema “Masa Depan Operasi Perdamaian Dunia: Teknologi AI, Perlindungan Peacekeepers dan Peluang Karier Civilians pada Misi PBB” ini diselenggarakan di Auditorium Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI, Sentul, Bogor, pada Jumat (29/5) mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB.

Delegasi dari Prodi HI UPNVJ dihadiri oleh Dosen Prodi HI UPNVJ, Hesti Rosdiana, S.Sos, M.Si., bersama empat orang mahasiswa, yaitu Muhammad Faishol Surya Dharmsa (NIM 2310412097), Andhika Fathir Radjasa (NIM 2310412199), Mochammad Evan Adiherlambang (NIM 2410412131), dan Arie Petra Levy (NIM 2310412166). Kehadiran delegasi ini merupakan bentuk komitmen akademis FISIP UPNVJ dalam memperluas wawasan mengenai dinamika geopolitik, teknologi pertahanan, dan diplomasi internasional.

Acara diawali dengan pembukaan resmi, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan penayangan Video Profil PMPP TNI yang menggambarkan dedikasi pasukan Garuda di kancah global. Komandan PMPP TNI dalam sambutannya menekankan pentingnya peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia di berbagai bidang strategis seperti kesehatan, teknologi informasi, hukum, logistik, dan tata kelola pemerintahan demi memperluas kontribusi dalam misi perdamaian dunia.

Momen penting dalam pembukaan ini adalah peresmian penggunaan Baret Biru PBB secara resmi bagi seluruh personel PMPP TNI berdasarkan Surat Keputusan Panglima TNI. Baret kebanggaan peacekeeper tersebut kini dilengkapi dengan emblem segi lima dan lambang Sandi Dharma. Usai sambutan, kendali acara diserahkan dari MC kepada moderator untuk memulai sesi pemaparan materi utama.

Narasumber pertama, Brigjen TNI Efran G., S.Sos., M.Si., memaparkan materi pada Sesi Panel 1 mengenai urgensi keselamatan pasukan di tengah eskalasi tantangan geopolitik global. Beliau menyoroti tingginya risiko penugasan di mana korban jiwa dari pasukan Indonesia hampir mencapai 50 orang, dengan lonjakan insiden dari 5 kejadian pada tahun 2024 menjadi 21 kejadian pada tahun 2025.

Sebagai solusi mitigasi, Brigjen TNI Efran memperkenalkan konsep integrasi Artificial Intelligence (AI) dan ICT guna memperluas jarak pandang taktis (*visual*) prajurit di lapangan. Melalui sistem patroli dinamis (*talent scouting*), pencitraan termal (*thermal imaging*), dan transmisi data satelit terpusat ke *Join Operation Center*, komandan dapat mengambil keputusan secara presisi demi memprioritaskan keselamatan pasukan. Teknologi ini sedang diuji coba dalam mendukung operasi di Papua dan diproyeksikan menggunakan *High Altitude Platform Systems* (HAPS) serta drone *Vertical Take-Off and Landing* (VTOL) pada target tahun 2028.

Sesi Panel 2 dilanjutkan oleh narasumber kedua, Bapak Luigi Mahesa Pralangga, yang mengupas tuntas peran krusial komponen sipil (*civilians*) dalam misi perdamaian. Beliau mengungkapkan keprihatinan atas rendahnya keterwakilan sipil Indonesia di PBB yang saat ini baru mencapai 827 orang atau sekitar 0,63% dari total staf sipil global, menempatkan Indonesia di posisi paling belakang di Asia Tenggara.

Bapak Luigi memaparkan panduan karier di sistem PBB (*UN Career*), mulai dari kategori

*General Services* (G Series), *Professional* (P Series), hingga *Director* (D Series). Beliau membagikan strategi bagi masyarakat sipil dan mahasiswa untuk menembus organisasi internasional tersebut melalui empat jalur utama: program magang (*internship*), *Young Professionals Programme* (YPP), *Junior Professional Officer* (JPO), dan *UN Volunteer* (Relawan PBB) sebagai pintu gerbang utama yang sangat potensial bagi lulusan muda.

Setelah pemaparan kedua panelis, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab (Q&A) yang berlangsung interaktif. Beberapa isu krusial dibahas, termasuk peluang inisiasi *Job Fair* bersama universitas, netralitas algoritma AI agar terhindar dari bias etno-politik, pertanggungjawaban Hukum Humaniter Internasional atas penggunaan AI, hingga ketatnya sistem pelatihan keselamatan (*pre-deployment training*) bagi personel sipil di daerah konflik. Sesi pembacaan kesimpulan notulen merumuskan beberapa rekomendasi strategis, diantaranya penegasan bahwa AI harus diposisikan sebagai instrumen pelindung (*enabler*) keselamatan prajurit dan bukan pengganti komando manusia, perlunya integrasi kebijakan lintas sektor (“falsafah 5 jari”), serta pentingnya pelibatan perguruan tinggi sebagai *think tank* internasional.

Rangkaian seminar diakhiri dengan prosesi khidmat Penyematan Pin PMPP TNI kepada mantan Komandan PMPP TNI sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi yang telah

diberikan. Acara ditutup dengan penyerahan piagam penghargaan dan sertifikat kepada para narasumber serta foto bersama seluruh peserta seminar.

Kerabat kerja :

——————————

Penulis : Mochammad Evan Adiherlambang / Penyelaras Bahasa : Hesti Rosdiana, M.Si., S.Sos

× Hubungi Kami