FisipUPNVJ – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta berkolaborasi dengan Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, Soka University, serta Universitas Al Azhar Indonesia dalam menyelenggarakan Public Lecture pada Jumat (4/9). Bertempat di Gedung IASTH Lantai 5 Kampus UI Salemba, kegiatan yang berlangsung pukul 13.45 hingga 16.30 WIB ini mengusung tema “Jepang dalam Dua Perspektif: Cara Pandang Jepang terhadap Asia Tenggara dan Realitas Kaum Muda dalam Masyarakat Jepang Kontemporer”. Agenda tersebut dihadiri oleh mahasiswa serta jajaran dosen, termasuk diantaranya Ivandra Solihin, S.I.P., M.A. dan Muhammad Kamil Ghiffary Abdurrahman, M.Si., dosen Hubungan Internasional UPNVJ.
Kuliah umum ini bertujuan memberikan sudut pandang anyar bagi civitas akademika dalam memahami dinamika Jepang modern melalui analisis istilah Nanyō dan fenomena Toyoko Kids. Di samping itu, acara ini diselenggarakan guna memperkuat jejaring akademik antarprogram studi Hubungan Internasional dan Sastra Jepang dari instansi yang terlibat. Integrasi antarlembaga tersebut diharapkan mampu memperluas cakrawala kajian kawasan bagi peserta yang memiliki minat khusus pada studi kejepangan.
Acara menghadirkan Dekan Faculty of Letters Soka University, Prof. Kazuo Kobayashi, sebagai narasumber utama. Sesi diskusi turut dibedah oleh dua penanggap, yakni Dosen Kajian Wilayah Jepang SPPB UI, Susy Ong, B.A., M.A., D.Sc., dan Dosen Hubungan Internasional UPNVJ, Frichicilia Grace Stahlumb, S.S., M.Si. Kehadiran para pakar tersebut memicu antusiasme tinggi dari para peserta, terbukti dari beragamnya pertanyaan kritis yang diajukan oleh mahasiswa maupun dosen lintas disiplin ilmu selama sesi tanya jawab.
Dalam pemaparannya, Prof. Kazuo Kobayashi menyoroti netralitas cara pandang dalam melihat dinamika sosial internal maupun eksternal suatu negara. “Pandangan Jepang terhadap Asia Tenggara menunjukkan bagaimana pihak lain dipahami dari sudut pandang Jepang, sementara fenomena Toyoko Kids menunjukkan bagaimana kaum muda di dalam masyarakat Jepang sendiri dilihat dan diberi label. Keduanya mengingatkan kita bahwa cara pandang tidak pernah sepenuhnya netral, sehingga pertanyaan pentingnya adalah: siapa melihat siapa, dari posisi apa, dan suara siapa yang belum terdengar? Pada akhirnya, memahami Jepang berarti melihat hubungannya dengan dunia luar sekaligus keragaman dan persoalan di dalam masyarakatnya sendiri,” ujar Kobayashi.
Menanggapi materi tersebut, Dosen Hubungan Internasional UPNVJ, Frichicilia Grace Stahlumb, S.S., M.Si., menilai kedua topik tersebut sebagai bagian dari studi Hubungan Internasional kontemporer yang relevan. “Melalui istilah Nanyō kita bisa melihat hubungan antarnegara, dinamika kawasan, hingga pembentukan identitas nasional, sedangkan fenomena Toyoko Kids memperlihatkan ketidakpastian generasi muda yang berkaitan erat dengan human security, peran aktor non-negara, hingga tata kelola global. Saya berharap mahasiswa tidak hanya melihat kajian HI sebatas hubungan ekonomi atau aliansi politik, tetapi juga dapat memahaminya dari sudut pandang sejarah, cerita, atau budaya populer yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” paparnya.
Dosen FISIP UPNVJ yang turut hadir menyaksikan kegiatan, Ivandra Solihin, S.I.P., M.A., menilai acara ini memberikan manfaat besar bagi mahasiswa dan dosen sebagai wadah pertukar gagasan antar civitas akademika, sekaligus berharap kerja sama lintas instansi tersebut dapat terus berkelanjutan.
Rangkaian kuliah umum kolaboratif yang berlangsung di Kampus UI Salemba ini sukses menjadi ruang diskusi interaktif bagi mahasiswa dan dosen UPNVJ, UI, UAI, serta Soka University. Melalui pemaparan materi serta tanggapan dari para ahli, seluruh peserta memperoleh wawasan baru mengenai dinamika masyarakat Jepang kontemporer dari sudut pandang sejarah dan hubungan internasional. Agenda ini ditutup dengan komitmen bersama untuk terus menjaga sinergi antarlembaga dan memperluas ruang pertukaran gagasan di masa mendatang.

