FisipUPNVJ – Program Studi Kajian Film, Televisi, dan Media Program Sarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UPN “Veteran” Jakarta bekerja sama dengan Goodwork Activation berkolaborasi mengadakan screening dan workshop film fiksi pada Selasa (8/9/2026). Kegiatan ini terselenggara di Auditorium Fakultas Kedokteran, UPN “Veteran” Jakarta dengan diikuti oleh hampir 100 orang peserta. Baik itu mahasiswa Prodi Kajian FTM, maupun mahasiswa dari prodi lain dan umum.
Dalam kegiatan tersebut, hadir Sutradara film Lobang Buaya, Hanung Bramantyo yang secara khusus membedah materi tentang “Sejarah Vs Sinema: Antara Fiksi, Fakta, dan Drama”. Materi ini disampaikan setelah peserta berdiskusi mengenai Film Lobang Buaya yang dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026. Dalam paparannya, Hanung menyebut sebagai sebuah media, film adalah alat yang digunakan untuk mengonstruksi cerita.
“Saya mengutip definisi fiksi dari Roland Barthes, bahwa fiksi sebagai sistem tanda (semiotika) yang menyusun dunia tekstual. Yang penting bukan apakah cerita itu benar, tetapi bagaimana teks mengorganisasi makna dan memengaruhi pembaca,” kata Hanung dalam paparannya, Selasa (8/9/2026).
Hanung berpendapat bahwa film fiksi yang dirilisnya sangat identik dengan penafsiran yang bersifat subjektif. Menurutnya, penonton memiliki hak penuh dalam memberikan tafsir pesan yang diterimanya. “Di sini Barthes menyatakan bahwa naratif, termasuk fiksi, adalah sebuah struktur tanda, dan kebenaran faktual bukan fokusnya,” tambahnya.
Menurutnya, film juga dapat berkaitan dengan cerita sejarah masa lalu. Dalam menafsirkan peristiwa, sutradara memiliki kuasa tertentu untuk membangun ceritanya. Namun, bila sudah mengklaim sebagai film fiksi, konstruksi cerita yang terjadi bisa jadi menjadi subjektif. Seperti halnya dengan film Lobang Buaya, publik dapat mengidentifikasinya dengan peristiwa masa lalu. “Sejarah menurut Carr, adalah dialog antara masa kini dan masa lalu, karena sejarawan selalu menafsirkan fakta melalui perspektif zamannya,” katanya.
Selain Hanung, screening dan workshop film juga dihadiri oleh salah satu pemain film Lobang Buaya, Anya Zen. Dalam kesempatan tersebut Anya menjelaskan pengalamannya bermain akting. Menurutnya, sebagai aktris penting juga menjaga batasan-batasan profesional dalam produksi film sehingga aktris merasa aman dan nyaman dalam berperan. Dia juga bahkan berkonsultasi dengan psikolog untuk menjalankan peran-peran yang dirasa berisiko dan menimbulkan trauma. “Dalam proses produksi, kami juga sangat berhati-hati sekali dalam beradegan,” ujar Anya. (DS)

