FisipUPNVJ – Sekitar 65 pelajar SMP Cenderawasih I, Cipete, Jakarta Selatan, menyaksikan pertunjukan teater Topeng Blantek pada Kamis (10/9/2026). Kegiatan bertajuk “TOPENG BLANTEK GOES TO SCHOOL: Sosialisasi dan Panggung Keliling Teater Topeng Blantek Betawi” tersebut merupakan kolaborasi Tim Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) dengan Sanggar Seni Putra Satria.
SMP Cenderawasih I menjadi sekolah pertama yang dikunjungi dalam rangkaian kegiatan yang direncanakan berlangsung di empat sekolah. Kegiatan yang berlangsung pukul 14.30–17.00 WIB itu diikuti siswa kelas 1 hingga kelas 3. Acara diawali dengan sambutan kepala sekolah, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan kegiatan oleh perwakilan Tim PISN UPNVJ.
Tim UPNVJ yang terlibat dalam kegiatan tersebut terdiri atas Luqman Hakim selaku ketua pelaksana, Gustiana Sabarina, Dede Suprayitno, dan Musthofa Galih Pradana. Mereka mendampingi Sanggar Seni Putra Satria dalam menghadirkan pertunjukan sekaligus mengenalkan lebih jauh seni pertunjukan tradisional Betawi kepada para pelajar.
Membawa Panggung Topeng Blantek ke Sekolah
Dalam kegiatan tersebut, Sanggar Seni Putra Satria membawakan lakon “Badun dan Bocah Ondel-Ondel.” Lakon tersebut dikembangkan dengan memasukkan berbagai persoalan dan hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini, termasuk isu Makan Bergizi Gratis (MBG) dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Pendekatan tersebut membuat pertunjukan tidak terasa jauh dari kehidupan para pelajar. Topeng Blantek hadir bukan sebagai kesenian masa lalu yang hanya diperkenalkan melalui penjelasan, tetapi sebagai pertunjukan yang dapat berinteraksi langsung dengan penontonnya.
Hal tersebut sejalan dengan karakter Topeng Blantek yang tidak bergantung pada panggung formal maupun naskah pertunjukan yang kaku. Pertunjukan berlangsung di ruang terbuka dengan jarak antara pemain dan penonton yang relatif cair. Interaksi dengan penonton menjadi salah satu kekuatan penting dalam pertunjukan.
Antusiasme para siswa terlihat sepanjang pertunjukan. Mereka tidak hanya menyaksikan cerita yang dimainkan, tetapi juga merespons interaksi para pemain. Setelah pertunjukan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi berbagi dan diskusi bersama para pemain Sanggar Seni Putra Satria.
Melalui sesi tersebut, para siswa mendapatkan kesempatan untuk bertanya mengenai Topeng Blantek, proses pertunjukan, maupun pengalaman para pemain dalam menjaga keberlangsungan kesenian tradisional tersebut.
Mengenalkan Seni Tradisi kepada Generasi Muda
Topeng Blantek merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional Betawi yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada 2016. Penetapan tersebut tercatat melalui SK Nomor 244/P/2016, dalam domain Seni Pertunjukan.
Meski demikian, pengenalan terhadap Topeng Blantek di kalangan generasi muda masih menjadi tantangan. Tidak semua pelajar mengenal kesenian tersebut sebelum mengikuti kegiatan ini. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan penting dilaksanakannya program sosialisasi melalui sekolah.
Ketua pelaksana kegiatan, Luqman Hakim, mengatakan bahwa respons para siswa menunjukkan adanya peluang besar untuk mengenalkan kembali seni tradisi kepada generasi muda.
“Banyak siswa yang ternyata belum mengetahui Topeng Blantek. Tetapi ketika mereka menyaksikan pertunjukannya, antusiasme mereka sangat baik. Ini menunjukkan bahwa Topeng Blantek sebenarnya memiliki peluang yang besar untuk dikenal oleh generasi muda,” ujar Luqman.
Menurutnya, tantangan pelestarian seni tradisi saat ini tidak hanya berkaitan dengan keberadaan kesenian tersebut, tetapi juga bagaimana membuat generasi muda mengenal dan memiliki ketertarikan terhadapnya.
“Anak-anak adalah pemegang tongkat estafet kebudayaan. Di tengah derasnya perkembangan gawai dan berbagai bentuk hiburan baru, mereka bisa semakin jauh dari tradisi di lingkungan mereka sendiri. Karena itu, tugas kita adalah memperkenalkan tradisi, termasuk Topeng Blantek, agar generasi muda tidak hanya mengetahui keberadaannya, tetapi juga memiliki kemauan untuk ikut menjaga dan melestarikannya,” lanjutnya.
Luqman menambahkan bahwa upaya tersebut membutuhkan kerja bersama berbagai pihak. Sekolah dapat menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan kesenian tradisional, sementara sanggar berperan sebagai ruang pembelajaran dan praktik kesenian. Perguruan tinggi dapat membantu melalui penelitian, pendampingan, pengembangan program, serta penguatan kapasitas komunitas seni.
Tidak Hanya Pertunjukan
Kegiatan TOPENG BLANTEK GOES TO SCHOOL tidak berhenti pada pertunjukan keliling. Program ini juga menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas Sanggar Seni Putra Satria melalui rangkaian kegiatan PISN.
Selain sosialisasi dan panggung keliling, Sanggar Seni Putra Satria mendapatkan pendampingan dalam bidang manajerial, pelatihan penulisan artikel untuk website, serta lokakarya pembuatan topeng. Penguatan tersebut diarahkan agar sanggar tidak hanya mampu mempertahankan aktivitas kesenian, tetapi juga dapat mendokumentasikan, mengomunikasikan, dan mengembangkan kegiatannya kepada masyarakat yang lebih luas.
Salah seorang guru SMP Cenderawasih I mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran pertunjukan Topeng Blantek memberikan pengalaman baru bagi para siswa sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan salah satu kesenian Betawi yang belum tentu mereka kenal sebelumnya.
“Kami bersyukur anak-anak bisa mengikuti kegiatan ini. Mereka terlihat senang dan antusias. Setidaknya hari ini mereka mengenal satu lagi seni pertunjukan Betawi,” ungkapnya.
Setelah SMP Cenderawasih I, kegiatan TOPENG BLANTEK GOES TO SCHOOL: Sosialisasi dan Panggung Keliling Teater Topeng Blantek Betawi akan dilanjutkan ke tiga sekolah lainnya. Melalui panggung yang bergerak dari sekolah ke sekolah, program ini diharapkan dapat memperluas ruang perjumpaan antara generasi muda dan seni tradisi.
Bagi Topeng Blantek, panggung keliling tersebut bukan sekadar memindahkan tempat pertunjukan. Ia menjadi cara untuk membawa tradisi mendekat kepada calon pewarisnya: anak-anak dan generasi muda yang kelak akan menentukan apakah kesenian tersebut tetap hidup, berkembang, dan dikenal oleh generasi berikutnya.

