FisipUPNVJ – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) memberikan pembekalan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2026 kepada mahasiswa untuk mendorong lahirnya gagasan inovatif yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kegiatan tersebut menghadirkan dosen Hubungan Internasional Winda Eka Pahla, S.Pd., M.A., dosen Ilmu Komunikasi Cahayani Yogaswari, S.IP., M.A., serta mahasiswa penerima hibah PKM, Zaskia dan rekan-rekannya. Para narasumber membagikan informasi mengenai skema PKM, peluang pendanaan, penyusunan proposal, hingga pengalaman mengikuti tahapan seleksi.
Dalam pembekalan tersebut, mahasiswa didorong membangun kolaborasi lintas program studi, angkatan, dan fakultas. Kebijakan serta informasi terbaru mengenai PKM dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) akan diteruskan secara bertahap melalui universitas dan fakultas.
Pada PKM 2026, terdapat 10 bidang program yang terbagi dalam delapan skema pendanaan dan dua skema insentif. Skema pendanaan tersebut antara lain PKM Kewirausahaan (PKM-K), PKM Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM), PKM Penerapan IPTEK (PKM-PI), PKM Karsa Cipta (PKM-KC), dan PKM Karya Inovatif (PKM-KI).
Sementara itu, dua skema insentif mencakup Artikel Ilmiah dan Gagasan Futuristik Tertulis.
“PKM 2026 membuka 10 bidang program, yang terbagi menjadi delapan bidang skema pendanaan serta dua bidang skema insentif,” ujar Winda.
Untuk skema pendanaan, setiap kelompok yang terdiri dari tiga hingga lima mahasiswa aktif jenjang D3, D4, atau S1 dan didampingi dosen pembimbing ber-NUPTK berpeluang memperoleh dana stimulan sebesar Rp6 juta hingga Rp8 juta. Adapun peserta pada skema insentif dapat memperoleh dana apresiasi hingga Rp1 juta.
Dalam skema PKM-K, misalnya, mahasiswa dapat mengembangkan produk berupa barang maupun jasa. Gagasannya dapat mencakup produk inovasi seperti skincare dan makanan sehat hingga layanan konsultasi, event organizer, serta pengolahan data.
Dosen Ilmu Komunikasi UPNVJ, Cahayani Yogaswari, menekankan pentingnya memahami karakteristik komoditas dan skema program yang dipilih.
“Di PKM Kewirausahaan (PKM-K) misalnya, komoditas yang dikembangkan tidak terbatas pada produk barang baru atau modifikasi seperti skincare dan kuliner sehat saja, tetapi juga bisa berupa produk jasa seperti layanan konsultasi, event organizer, hingga pengolahan data,” ujar Cahayani.
“Kuncinya adalah bagaimana gagasan tersebut menawarkan kebaruan dan kebermanfaatan nyata,” lanjutnya.
Kreativitas Jadi Kunci
Selain gagasan yang inovatif, peserta diingatkan untuk memperhatikan aspek administratif dalam penyusunan proposal. Proposal harus mengikuti format yang ditetapkan, bebas plagiarisme dengan tingkat kemiripan maksimal 25 persen, serta mematuhi panduan penggunaan kecerdasan buatan generatif (GenAI).
Proposal akan melalui proses seleksi di tingkat fakultas dan universitas sebelum diajukan melalui sistem nasional. Namun, menurut narasumber, kelengkapan administratif saja tidak cukup untuk memenangkan seleksi.
Kreativitas dan tingkat kebermanfaatan gagasan bagi masyarakat menjadi faktor penting yang perlu ditonjolkan mahasiswa dalam proposal.
Mahasiswa penerima hibah PKM, Zaskia dan rekan-rekannya, kemudian membagikan pengalaman mengenai proses penyusunan proposal hingga pelaksanaan program selama sekitar tiga hingga empat bulan.
Mereka juga memberikan gambaran mengenai tahapan Penilaian Kemajuan Pelaksanaan PKM (PKP2), termasuk persiapan yang diperlukan untuk melanjutkan perjalanan hingga Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).
