FisipUPNVJ – Program Studi Kajian Film, Televisi, dan Media (Kajian FTM) Program Sarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UPN “Veteran” Jakarta bekerja sama dengan Goodwork Activation berkolaborasi mengadakan screening dan workshop film “Lobang Buaya” pada Selasa (8/9/2026). Kegiatan screening terselenggara di Bioskop XXI Onebell Park, dan kegiatan workshop terselenggara di Auditorium Fakultas Kedokteran, UPN Veteran Jakarta dengan diikuti oleh hampir 100 orang peserta. Baik itu mahasiswa Prodi Kajian FTM, maupun mahasiswa dari prodi lain dan umum.
Muhammad Sultan Fadillah Anak Agung, mahasiswa Prodi Kajian FTM menyatakan mengikuti workshop dan screening film Lobang Buaya karya Hanung Bramantyo menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Dia merasa senang dapat bertemu langsung dengan salah satu sutradara terkenal di Indonesia dan mendapatkan kesempatan untuk belajar banyak dari pengalaman membuat film.
“Dari workshop tersebut, saya tidak hanya mendapat wawasan tentang proses pembuatan film, tetapi juga mendengar langsung pengalaman Hanung Bramantyo selama proses shooting dan bagaimana sebuah cerita dikembangkan menjadi karya sinema,” kata Sultan.
Menurutnya, hal yang paling menarik adalah pembahasan mengenai hubungan antara sejarah dan sinema. Terutama bagaimana sebuah peristiwa sejarah dapat diinterpretasikan dan disampaikan melalui film. “Pengalaman ini membuat saya semakin memahami bahwa film bukan hanya tentang menyajikan cerita, tetapi juga membutuhkan proses, sudut pandang, dan pertimbangan yang matang dalam menyampaikan sebuah realitas kepada penonton,” tambahnya.
Selain itu, mahasiswi Prodi Kajian FTM, Aurahawa Anasya Muttaqien juga memiliki kesan positif atas kegiatan ini. Kegiatan tersebut dinilai menyenangkan dan bisa menyaksikan film dari Sutradara nasional Hanung Bramantyo. Film Lobang Buaya yang disutradarai Hanung Bramantyo mengangkat isu yang familiar dengan keadaan saat ini serta dibungkus dengan cerita horor dengan banyak hal baru unexpected.
“Bagi kami, ini merupakan pengalaman baru. Sesudah pemutaran film, sesi tanya jawab atau workshop juga memberikan perspektif baru tentang ide cerita dan tantangan di balik layar. It was a great experience,” tambahnya.
Pengalaman menonton film ini juga mendapat apresiasi dari mahasiswa Kajian FTM lainnya. Halwan Muhammad Abdallah, mahasiswa Prodi Kajian FTM mengira screening film yang dihadirkan akan membahas mengenai aspek sejarah yang berkaitan dengan G30S/PKI. “Ternyata kesan yang didapat setelah nonton film ini tuh bener-bener beda 180 derajat. Memang judulnya Lobang Buaya dan berlatar tahun 1965 tetapi ini menggunakan visual dan story ketegangan horror yang beda, teror yang terus-menerus ada di dalam sebuah desa yaitu Desa Lobang Buaya,” terang Halwan.
Menurutnya, setelah screening film, semua pertanyaan terjawab dalam sebuah workshop yang diadakan dari tim Film Lobang Buaya ini. Workshop ini baginya penting karena setelah menonton film tersebut, penonton menjadi tahu bagaimana narasi dan cerita film tersebut dibangun dari hal yang paling dasar hingga mendalam. “Termasuk menjurus ke ranah cerita yang telah dimodifikasi oleh mas Hanung Bramantyo sebagai sutradara film tersebut,” katanya.
Nathanael Yoga Budianto, mahasiswa Prodi Kajian FTM menyatakan screening dan workshop film Lobang Buaya karya Hanung Bramantyo memberikan pengalaman yang menarik karena film ini tidak hanya menghadirkan cerita thriller-horor, tetapi juga memperlihatkan bagaimana unsur sejarah, misteri, dan visual dapat dikemas menjadi satu kesatuan. “Selama screening, saya cukup tertarik dengan penggunaan tubuh korban sebagai medium untuk menyampaikan pesan,” ujar Yoga
Dari workshop yang diberikan, Yoga juga mendapatkan pemahaman bahwa proses pembuatan film tidak hanya berkaitan dengan cerita, tetapi bagaimana setiap elemen sinematik seperti mise-en-scène, sinematografi, editing, dan suara digunakan untuk membangun atmosfer serta mengarahkan persepsi penonton.
“Kegiatan ini membuat saya melihat film secara lebih kritis, terutama dalam memahami bagaimana sebuah referensi dari film lain dapat diolah kembali dengan konteks dan identitas yang berbeda,” pungkasnya. (DS)

