FisipUPNVJ — Kurikulum ilmu komunikasi tidak lagi dapat disusun hanya dari daftar mata kuliah, tetapi harus berangkat dari hasil akhir yang ingin dicapai oleh lulusan ketika memasuki dunia kerja.
Hal tersebut disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ), Dr. S. Bekti Istiyanto saat menjadi narasumber dalam Workshop Kurikulum ASPIKOM Korwil Jabodetabek di BINUS University Kampus Anggrek, Jakarta Barat, Selasa (14/4/2026).
Dalam materinya bertajuk Menyiapkan Kurikulum Outcome-Based Education (OBE) yang Adaptif dan Sesuai Kebutuhan Industri, Bekti menekankan bahwa kurikulum berbasis OBE harus dirancang dari capaian pembelajaran lulusan yang terukur serta relevan dengan kebutuhan industri.
Menurut Bekti, konsep dasar OBE menuntut perguruan tinggi untuk tidak memulai penyusunan kurikulum dari bahan ajar, melainkan dari kemampuan yang harus dimiliki lulusan.
Seluruh proses pembelajaran, lanjutnya, harus difokuskan pada capaian pembelajaran lulusan, disusun berdasarkan kebutuhan industri, memiliki standar yang jelas, serta membuka berbagai metode pembelajaran agar seluruh mahasiswa dapat mencapai kompetensi yang ditargetkan.
“Jangan mulai dari bahan ajar, mulai dari hasil akhir. OBE itu dirancang dari capaian pembelajaran lulusan yang terukur, bukan dari daftar mata kuliah,” tegas mantan Ketua Umum ASPIKOM tersebut.
Bekti menambahkan, kurikulum perlu dirancang dengan fokus yang jelas sehingga setiap aktivitas pembelajaran benar-benar mengarah pada kompetensi yang dibutuhkan oleh industri.
Ia juga menyoroti tantangan kurikulum kekinian pada program studi ilmu komunikasi. Menurutnya, perkembangan industri berlangsung sangat cepat seiring hadirnya media digital, kecerdasan artifisial, analisis media sosial, hingga komunikasi krisis secara real-time.
Di sisi lain, masih terdapat kesenjangan antara lulusan yang memahami teori dengan kemampuan praktik yang dibutuhkan industri. Tidak sedikit lulusan yang masih kesulitan ketika diminta menyusun content plan, membaca data engagement, atau merespons dinamika komunikasi digital yang cepat.
“Industri bergerak sangat cepat, tetapi kampus sering kali masih tertinggal. Akibatnya ada lulusan yang kuat di teori, tetapi belum siap saat diminta membuat content plan, membaca data engagement, atau menghadapi dinamika komunikasi real-time. Saat ini industri lebih melihat portofolio dan soft skills daripada sekadar nilai ujian,” ujarnya.
Bekti menegaskan bahwa kurikulum OBE yang adaptif harus bersifat dinamis dan dievaluasi secara berkala berdasarkan umpan balik dari industri. Langkah yang dapat dilakukan antara lain memetakan profil lulusan berbasis kebutuhan industri, kemudian merumuskan capaian pembelajaran lulusan (CPL) dengan kata kerja yang terukur seperti merancang, mengelola, menganalisis, menulis, hingga menyunting.
Dari CPL tersebut, mata kuliah dan sistem asesmen perlu diarahkan pada proyek nyata yang melibatkan mitra industri agar mahasiswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga menghasilkan karya yang dapat dibuktikan.
“Sekarang ini proyek nyata lebih penting dari ujian teori. Jadikan umpan balik industri sebagai roda penggerak perubahan kurikulum,” jelasnya.
Ia juga memberikan contoh penerapan kurikulum OBE adaptif melalui asesmen berbasis proyek, seperti mahasiswa membuat proposal kampanye untuk klien nyata, menyusun laporan analitik dari akun media sosial perusahaan dengan data riil, hingga menghasilkan portofolio rilis pers dan kliping media hasil publikasi.
Model pembelajaran lain yang dapat diterapkan antara lain guest project di setiap mata kuliah. Misalnya, mahasiswa fotografi dan videografi membuat video reels promosi bagi komunitas lokal, mahasiswa public speaking melakukan pitching di hadapan praktisi humas, serta mahasiswa etika komunikasi menganalisis kasus viral terkini.
Menurut Bekti, model pembelajaran seperti ini akan menghasilkan bukti capaian pembelajaran yang lebih autentik.
“Kurikulum adaptif tidak boleh statis. Tidak ada RPS yang sama setiap tahun, karena tools, kasus, dan kebutuhan industri selalu berubah,” pungkasnya. =DRN
Sumber : https://pakuanraya.com/bekti-istiyanto-kurikulum-obe-harus-berangkat-dari-kebutuhan-industri/
