FisipUPNVJ – Screenwriter ternama Jujur Prananto mendorong mahasiswa baru Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) untuk mulai membangun kompetensi dan mengasah kepekaan sejak awal perkuliahan.
Menurut Jujur, mahasiswa tidak perlu menunggu semester tertentu untuk mulai mengembangkan kemampuan. Masa awal kuliah justru menjadi kesempatan untuk mengeksplorasi minat, mengenali tujuan, dan mulai menghasilkan karya.
Pesan tersebut disampaikan Jujur dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru Fakultas (PKKMBF) FISIP UPNVJ 2026 di Balai Prajurit Ragunan, Jakarta Selatan, Kamis (13/8).
Jujur mengatakan mahasiswa yang sejak SMA sudah memiliki gambaran mengenai bidang yang ingin ditekuni memang memiliki keuntungan. Namun, mahasiswa yang masih mencari arah setelah memasuki perguruan tinggi juga tidak perlu merasa tertinggal.
Menurutnya, yang terpenting adalah mulai mengeksplorasi pilihan dan mengenali minat sedini mungkin.
Khusus bagi mahasiswa Kajian Film, Televisi, dan Media (KFTVM), ia menyebut terdapat beragam jalur karier yang dapat dipilih, mulai dari pembuat film, penulis, hingga kritikus film dan peneliti media. Lulusan bidang kajian film juga dapat bekerja di lembaga yang membutuhkan kompetensi tersebut, termasuk lembaga perfilman dan penyiaran.
Kepekaan Jadi Modal Berkarya
Jujur menekankan pentingnya kemampuan mengamati kehidupan sehari-hari, terutama bagi mahasiswa yang ingin berkarier di bidang kreatif.
Menurutnya, pembuat film harus memiliki kepekaan terhadap lingkungan dan mampu melihat persoalan yang sering luput dari perhatian orang lain. Kemampuan tersebut dapat dilatih dengan menjadi pengamat yang baik terhadap orang-orang dan peristiwa di sekitar.
“Kalau kita ingin membuat film, kita harus tahu apa yang akan kita ceritakan. Dan itu hanya bisa dilatih dengan melatih kepekaan,” ujar Jujur.
Ia menyebut kemampuan tersebut sebagai kepekaan naratif, yakni kemampuan untuk mengamati dan menggali lebih jauh realitas di sekitar. Rasa ingin tahu, menurutnya, dapat menjadi modal penting untuk menemukan cerita.
Bagi pembuat film dokumenter, kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena karya dokumenter bertolak dari kenyataan yang kemudian diolah melalui sudut pandang pembuatnya.
Jujur juga mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menjadi konsumen karya audiovisual, tetapi mulai menciptakan karya sendiri. Kemajuan teknologi membuat proses produksi film kini semakin mudah dilakukan, bahkan dengan perangkat yang dimiliki mahasiswa sehari-hari.
Menurutnya, telepon seluler sudah dapat digunakan untuk merekam gambar, sementara proses penyuntingan dapat dilakukan menggunakan laptop. Karena itu, mahasiswa dapat mulai membuat karya sederhana tanpa harus menunggu memiliki peralatan profesional.
“Jangan menunggu. Mulai dari sekarang. Rajin-rajin membuat film, bikin dan terus bikin macam-macam yang bisa dibuat,” katanya.
Kuliah Bukan Tiket Otomatis Menuju Karier
Jujur juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menganggap diterima di perguruan tinggi sebagai pencapaian akhir. Menurutnya, status sebagai mahasiswa justru merupakan awal dari perjalanan panjang untuk membangun kompetensi dan karier.
“Kuliah bukan tiket gratis untuk begitu saja bisa berkarier. Setelah lulus tetap harus ada perjuangan,” ujar Jujur.
Ia mendorong mahasiswa untuk terus meningkatkan kemampuan dan tidak cepat puas dengan pencapaian yang telah diraih. Selain perkuliahan, mahasiswa perlu aktif mengikuti berbagai kegiatan, memperluas wawasan, dan terus menghasilkan karya.
Pengalaman Jujur sendiri dalam menekuni dunia penulisan dan perfilman bermula dari ketertarikannya terhadap buku dan kemudian berkembang melalui pendidikan serta lingkungan yang mendorongnya untuk terus berkarya.
Ia mengatakan proses tersebut menunjukkan bahwa pembentukan kompetensi membutuhkan waktu dan tahapan. Karena itu, mahasiswa tidak perlu terburu-buru mengejar hasil, tetapi harus konsisten menjalani proses belajar dan menciptakan karya.
Industri Film Indonesia dan Perubahan Ekosistem
Dalam sesi tersebut, Jujur juga menyinggung perubahan industri audiovisual Indonesia. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami bahwa industri kreatif terus berubah seiring perkembangan teknologi dan pola konsumsi masyarakat.
Ia mencontohkan industri televisi yang kini menghadapi perubahan besar akibat pergeseran belanja iklan dan perhatian audiens ke platform digital seperti TikTok dan Instagram.
Di sisi lain, Jujur melihat perkembangan positif dalam industri film Indonesia. Ia menilai meningkatnya minat masyarakat terhadap film nasional menunjukkan adanya peluang bagi generasi baru yang ingin masuk ke industri tersebut.
Ia pun mendorong mahasiswa untuk optimistis, tetapi tetap realistis dalam mempersiapkan diri menghadapi perubahan industri.
Bagi Jujur, kemampuan membaca realitas dan mengubahnya menjadi gagasan merupakan modal penting, terutama bagi mahasiswa yang ingin berkarya di bidang film dan media.
“Kalau kalian tidak punya kepekaan, tidak punya daya observasi, tidak akan menemukan hal seperti itu,” ungkapnya.
