FisipUPNVJ – Bidang kecantikan kerapkali identik dengan penampilan dan motivasi untuk beraktivitas serta meningkatkan rasa percaya diri ketika berada di lingkungan masyarakat luas. Hal ini tentunya dapat menjadi dasar untuk membangun bisnis serta mencari peluang keuntungan dari bisnis kecantikan tersebut dan meningkatkan menciptakan kewirausahaan yang berbasis pada kreativitas dan bakat yang dimiliki. Jakarta (06/06)

Hal tersebut disampaikan oleh Elis Sumarni, entrepreneur Founder Meri Beauty dalam Workshop Pemanfaatan Platform Media Sosial Untuk Kewirausahaan Bidang Kecantikan pada (05/06) di Auditorium FISIP Gedung A FISIP Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta lantai dasar.

Elis menjadi pembicara Workshop yang dihadiri oleh 240 mahasiswa pada Angkatan 2025 FISIP yang juga didominasi oleh mahasiswa Program Studi Sains Informasi. Acara diawali dengan sambutan oleh Koordinator Program Studi Sains Informasi, Dr. Radita Gora dan Plh. Dekan FISIP, Dr. Azwar, M.Si.

Elis yang lama berkecimpung di dunia kecantikan sebagai Make Up Artist (MUA) selama lebih dari 10 tahun, mampu membangun jejaring mitra kerja yang support pada bidang kerjanya dan juga membangun usaha di bidang kecantikan professional yang memiliki banyak klien dan juga merekrut tenaga kerja professional sesuai dengan kebutuhan kerjanya.

Bagi Elis, upaya membangun usaha di bidang kecantikan tidak serta merta muncul begitu saja, hal ini tentunya diawali dengan bakat yang dimiliki dan passionnya sebagai penata rias yang sudah dimiliki sejak dini. Selain itu Elis berpengalaman kerja sebagai MUA di Martha Tilaar, baru kemudian membangun usahanya sendiri di bidang kecantikan sebagai penata rias mandiri.

“Saya membuat usaha sendiri dan bangun bisnis sendiri karena keahlian dan bakat di bidang penata rias atau sebagai MUA. Dari sini kemudian saya buat jaringan usaha ini lebih luas untuk bisa mendapatkan klien yang memang membutuhkan jasa MUA biasanya klien yang akan melangsungkan pernikahan, atau acara ulang tahun pernikaham, wisuda, dan lain sebagainya. Makanya ini menjadi peluang buat kita yang ingin berkecimpung di bidang kecantikan,”ujar Elis dalam paparannya.

Awal mula keinginan untuk membangun usaha sendiri dan meyakinkan diri untuk berwirausaha, Elis pernah mendapat pesan dari ayahnya agar menjadi perempuan yang mandiri dan harus memiliki keahlian yang nantinya bisa dijadikan bekal untuk hidup dan bekerja serta menekankan kejujuran. Berdasarkan motivasi itulah kemudian Elis mengasah keahliannya sebagai penata rias dan berani untuk membangun usahanya sendiri yang dikelolanya sendiri. Selain itu Elis juga mengoptimalkan penggunaan media sosial untuk mempromosikan dan menunjukkan portfolio hasil kerjanya.

“Saya manfaatin media sosial untuk menunjukkan hasil kerja saya, portofolio, yang nantinya juga untuk promosi dan ditunjukkan ke calon-calon klien kita. Penting bagi kita ketika menunjukkan professional kerja tidak hanya sekedar portfolio. Karena di media sosial itu ada review dari pelanggan-pelanggan sebelumnya yang harus kita jaga reputasi dan kualitasnya,”kata Elis.

Dalam membangun porfotolio kerja saja juga tidak cukup, dalam peningkatan penilaian profesionalitas kerja tentunya memerlukan inventaris barang kerja yang dimiliki sebagai modal kerja yang mumpuni untuk bisa meningkatkan kepercayaan dari calon pelanggan. Selain itu juga penguasaan penggunaan perangkat dan fasih dalam menentukan kondisi perwajahan pelanggan atau kebutuhan klien.

Hal ini terapkan juga oleh Elis pasca memberikan paparan tentang wirausaha dan penggunaan platform media sosial, kemudian mempraktikkan cara kerja MUA, menjelaskan penggunaan perangkat dan memilih make up yang sesuai. Tentunya hal ini juga mengundang perhatian dari mahasiswi yang ada di ruangan sambil mengikuti workshopnya.

“Pada MUA kita harus tahu betul kebutuhan klien kita. Misalkan wajah dari pelanggan kita kemudian menentukan jenis make up yang digunakan, selain itu juga komunikasi ke pelanggan kita,” Elis menambahkan.

Kehadiran Elis sebagai praktisi MUA dan pelaku usaha kecantikan juga mendapat antusias dari Koordinator Program Studi Sains Informasi, Radita Gora. Dalam sambutan pertamanya, Gora mengatakan bahwa dalam penerapan ilmu informasi ini tidak hanya berlaku pada keahlian yang sesuai dengan kebutuhan Dunia Industri semata, namun juga dapat diperuntukkan untuk Dunia Usaha yang menekankan kewirausahaan berbasis digital.

“Melalui adanya workshop ini, mahasiswa dapat membangun perencanaan bisnisnya dan memanfatakan platform media sosial untuk promosikan bidang usahanya, termasuk dalam bidang kecantikan ini seorang MUA dapat menunjukkan portfolio hasil kerjanya melalui media sosia dan itu bisa dijual untuk kepentingan market kecantikan yang luas, seperti halnya Elis yang memanfaatkan keahliannya di bidang MUA untuk peluang bisnis,”ujar Gora.

Serupa dikatakan oleh Plh. Dekan FISIP UPNVJ, Azwar, yang mengatakan bahwa para lulusan atau mahasiswa yang sudah lulus jangan terlalu berpikir untuk bekerja sebagai pegawai, namun juga dapat berwirausaha.

“Diharapkan mahasiswa ketika lulus jangan hanya berpikir untuk menjadi pegawai di industry saja, tapi bisa juga untu berwirasauaha, menjadi pengusaha. Tentunya memerlukan keahlian untuk itu. Selain itu juga dalam berwirausaha juga didasarkan pada kesukaan, bakat untuk keahlian teman-teman semua,” Azwar menambahkan. (*)

Kerabat kerja:

——————————–

Penulis: Dr. Radita Gora, MM

× Hubungi Kami