FisipUPNVJ – Dalam rangka menjalankan salah satu pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi, tim dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta sukses menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas). Kegiatan yang mengusung tema “Strategi Branding dan Pemberdayaan Komunitas Untuk Meningkatkan Partisipasi Masyarakat pada Sanggar Kartini Kota Metro Lampung” ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting pada Jumat malam, (29/05).
Acara ini diadakan sebagai bentuk tindak lanjut atas permohonan dari Pimpinan Sanggar Kartini Kota Metro Lampung guna meningkatkan keterampilan komunikasi, manajemen talenta, serta strategi pemasaran digital komunitas seni tersebut. Sebanyak empat dosen ahli dari FISIP UPNVJ hadir sebagai narasumber untuk membagikan formula strategis dari perspektif akademis dan praktis.
Kupas Tuntas Strategi Branding, Politik Gender, dan Tantangan Industri Kreatif
Sesi pematerian dibagi ke dalam tiga fokus utama yang saling berkesinambungan:
- Navigasi Politik Gender dan Budaya (Gender & Cultural Politics) Disampaikan oleh Nanda Rizka Syafriani Nasution, M.IP., materi ini mengupas cara mengintegrasikan nilai pemberdayaan Perempuan yang terinspirasi langsung dari semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini ke dalam industri fashion dan manajemen talenta. Tujuannya agar Sanggar Kartini mampu membangun citra (branding) sebagai komunitas yang inklusif, peka sosial, serta memiliki nilai jual yang kuat di mata publik.
- Membangun Strategi Pemasaran & Personal Branding Digital Dipaparkan oleh Fitria Hani Aprina, S.I.Kom., M.I.Kom., sesi ini memberikan kisi-kisi dan formula praktis mengenai pemasaran digital yang efektif. Strategi ini dirancang agar sanggar dapat memperluas jangkauan audiens dan menarik minat masyarakat luas untuk berkolaborasi atau bergabung menjadi bagian dari sanggar.
- Menghadapi Tantangan Industri Kreatif di Era Global Disampaikan secara kolaboratif oleh Hartika Arbiyanti, S.S., M.Si. dan Syfa Amelia, S.IP., M.A., materi terakhir ini menyoroti dinamika tren global serta tantangan internal yang dihadapi pelaku seni dalam mempertahankan eksistensi seni tradisional dan modern di tengah gempuran zaman.
Suasana pengabdian masyarakat berlangsung sangat interaktif. Candra Kartini, selaku Owner sekaligus Founder Sanggar Kartini Metro Lampung, menyambut antusias kehadiran para akademisi FISIP UPNVJ. Beliau membagikan kisah sukses sanggar yang sejauh ini telah aktif bersinergi dengan Pemerintah Kota Metro, menginisiasi lini fashion ‘SK Klambie’, hingga menjalin kemitraan strategis dengan rekan jurnalis.
“Kami tengah menghadapi sebuah isu krusial di sanggar, yaitu adanya fenomena penurunan minat tarian daerah pada anak-anak Kelompok A yang berkisar di usia 3–8 tahun atau Generasi Alpha. Berbeda dengan Kelompok B berusia remaja yang sangat mencintai tari tradisional, anak-anak Generasi Alpha ini justru sangat antusias pada tari hiphop atau RnB. Jika sedikit ditekankan dan dipaksa untuk belajar tari daerah, mereka cenderung akan membolos di minggu berikutnya,” ujar Candra.
Merespons keresahan tersebut, Fitria Hani Aprina, yang selain menjadi akademisi juga memiliki latar belakang sebagai mantan pelatih (coach) tari, memberikan solusi berbasis pendekatan karakteristik generasi.
“Generasi Alpha adalah generasi yang melek teknologi sejak dini dan terpapar informasi budaya asing dengan sangat masif. Menghadapi anak di usia ini tidak bisa dengan paksaan atau dididik terlalu keras,” jelas Hani.
Kemudian Hani menyarankan formula “menyisipkan tradisi dalam modernitas”, di antaranya:
- Metode Pemanasan (Warm-up): Biarkan anak-anak menari hiphop atau RnB yang mereka sukai, namun jadikan gerakan tarian tradisional sebagai aktivitas pemanasan sebelum kelas inti dimulai.
- Penanaman Nilai implisit: Selipkan nilai-nilai budaya, moral, dan etika secara berkala pada sesi penutupan kelas.
- Metode Peniruan (Modeling): Sering-seringlah melibatkan anak-anak Kelompok A untuk menonton atau hadir saat senior mereka (Kelompok B) tampil menari daerah di depan publik.
Dengan konsistensi pembiasaan visual dan penanaman nilai ini, rasa cinta terhadap tarian daerah diproyeksikan akan tumbuh secara alami seiring dengan kematangan usia mereka.
Melalui kegiatan abdimas ini, FISIP UPNVJ berharap formula strategi dan solusi praktis yang telah dirumuskan bersama dapat langsung diimplementasikan, sehingga Sanggar Kartini Kota Metro Lampung dapat terus eksis, adaptif secara digital, namun tetap kokoh menjaga akar budaya nusantara. (*)
Kerabat kerja:
——————————————
Penulis : Fitria Hani Aprina, S.I.Kom., M.I.Kom. / Penyelaras bahasa : Dr. Azwar. M.Si
