FisipUPNVJ – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPN “Veteran” Jakarta) menyelenggarakan Seminar dan Kuliah Umum bertajuk Diplomatic Protocol Insight dengan mengusung tema “Peran dan Profesionalisme Protokol dalam Praktik Kenegaraan” pada Senin, (4/5) bertempat di Auditorium FISIP UPN “Veteran” Jakarta.
Di samping menghadirkan narasumber dari Kementerian Luar Negeri RI, kegiatan ini juga menghadirkan Dr. Asep Kamaluddin Nashir, S.Ag., M.Si yang merupakan pengajar di program studi Hubungan Internasional, FISIP, UPN “Veteran” Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Asep menjelaskan bahwa keprotokolan merupakan pintu masuk dari sebuah diplomasi kenegaraan, tidak terkecuali Indonesia. Menurutnya, keberhasilan untuk menunjukkan protokol yang profesional akan memastikan roda diplomasi dapat berjalan tanpa adanya gesekan yang berarti.
“Setiap diplomasi, hampir 90 persen berawal dari keprotokaln sebagai salah satu langkah yang memiliki dampak secara psikologis pada kesan pertama tamu negara. Kegagalan kecil dalam protokol bukan sekadar kesalahan teknis saja, melainkan pemicu krisis diplomatik yang dapat berujung pada kerugian strategis antar-negara,” papar Asep.
Ia menambahkan bahwa terdapat tiga asas penopang harmoni antar-lembaga, di antaranya lewat teori preseance (prioritas) yang artinya mengarut urutan prioritas penempatan secara matematis berdasarkan jabatan, kedudukan, atau senioritas.
Selanjutnya, teori reciprocity (timbal balik) yang artinya perlakuan yang diberikan suatu negara wajib dibalas setara oleh negara lain. Dan terakhir adalah teori courtesy (penghormatan), yakni asas kesopanan dan penghormatan tulus yang melampaui aturan tertulis demi menjaga harmoni.
“Untuk menjaga keharmonisan hubungan antar lembaga, maka setidaknya hubungan tersebut harus berdiri di atas tiga asas, di antaranya teori preseance (prioritas), teori reciprocity (timbal balik), dan terakhir adalah teori courtesy (penghormatan),” urah Asep.
Pada sesi tersebut, Asep juga menegaskan empat perisai dalam menjaga profesionalisme protokoler demi meminimalisir kesalahan teknis. Empat perisai tersebut di antaranya: Kognitif (competence), Integritas dan Etika, Ketajaman Detail (attention to detail), dan Kelincahan (agility).
“Dan demi meminimalisir kesalahan teknis yang dapat memengaruhi hubungan antar-negara, maka penting memegang teguh empat perisai profesionalisme protokoler, di antaranya kognitif (competence), integritas dan etika, ketajaman detail (attention to detail), dan kelincahan (agility),” tegasnya.
Pada akhir sesi, Asep Kamaluddin menegaskan bahwa keprotokolan adalah etalase bagi kedaulatan bangsa. Karena sebuah acara bukan terletak pada kemegahannya, tetapi pada ketertibannya.
Kerabat Kerja
———————————
Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra, S.T., M.Sos.
