FisipUPNVJ – Program Studi S1 Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Peningkatan Partisipasi Komunitas Literasi Sumatera Barat untuk Alih Wahana Kisah-Kisah Bela Negara” di Universitas Negeri Padang, Senin (29/6).
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, serta hasil kolaborasi antara UPN “Veteran” Jakarta, Universitas Negeri Padang, Taman Budaya Sumatera Barat, Penerbit Nusantara Persada Utama, dan Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.
“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan keterlibatan pegiat literasi dalam mendokumentasikan kisah-kisah lokal yang mengandung nilai perjuangan, patriotisme, dan kebangsaan,” ujar Plh. Dekan FISIP UPN “Veteran” Jakarta, Dr. Azwar, M.Si.
Lebih jauh Dr. Azwar, M.Si., menyampaikan bahwa melalui pelatihan ini, peserta diajak mengalihmediakan cerita-cerita lisan dan sejarah lokal menjadi karya jurnalistik berbentuk feature yang humanis, inspiratif, dan relevan bagi generasi masa kini.
Dr. Azwar, M.Si., yang juga ketua tim pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa banyak kisah bela negara yang hidup di tengah masyarakat, namun belum terdokumentasikan secara memadai. “Pelatihan ini mendorong masyarakat, khususnya mahasiswa dan komunitas literasi, untuk menggali memori kolektif lokal dan menuliskannya dengan pendekatan jurnalistik yang kuat, tetapi tetap menyentuh sisi kemanusiaan,” ujarnya.
Pelatihan ini diikuti oleh peserta yang berasal dari mahasiswa, guru, komunitas literasi, penulis, dan masyarakat umum yang memiliki minat pada kepenulisan. Peserta berasal dari Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Pasaman, Kabupaten 50 Kota, Kota Payakumbuh, Kabupaten Pariaman, Kota Pariaman, dan Kota Padang. Selama kegiatan, peserta mendapatkan pembekalan teori hingga praktik langsung penulisan feature.
Tiga narasumber dihadirkan dalam kegiatan ini. Dr. Azwar, M.Si., memaparkan materi tentang konsep bela negara dan narasi lokal sebagai memori kolektif. Selanjutnya, Dr. Muhammad Isa Gautama, M.Si., membahas teknik penulisan feature, mulai dari karakteristik, sudut pandang, hingga teknik opening dan ending cerita. Sementara itu Ade Efdira, SS., MM., yang lebih dikenal dengan nama pena Ragdi F Daye yang juga Kepala Seksi Produksi dan Kreasi Seni Budaya Taman Budaya Sumatera Barat membawakan materi bertemakan “Menulis Feature yang Humanis dan Gaya Sastrawi.”
Dr. Mohammad Isa Gautama, M.Si., menyampaikan bahwa pelatihan ini juga menegaskan pentingnya ketepatan teknik jurnalistik dalam penulisan feature. Dosen Ilmu Komunikasi FIS UNP tersebut menjelaskan bahwa feature memiliki karakter yang berbeda dari berita langsung (straight news).
“Feature writing merupakan bentuk penulisan kreatif yang menggabungkan fakta empiris dengan gaya naratif. Berbeda dari berita yang menonjolkan kecepatan, feature menekankan kedalaman, warna manusiawi, dan daya tarik emosional,” jelas Mohammad Isa Gautama.
Ia menambahkan bahwa kekuatan utama feature terletak pada sudut pandang dan narasi yang dibangun penulis. Feature bukan sekadar menjawab apa yang terjadi, tetapi mengapa dan bagaimana sebuah peristiwa menjadi penting bagi manusia.
Dalam konteks kisah bela negara, menurutnya penulis harus mampu menemukan angle yang tajam dan relevan dengan pembaca masa kini.
“Feature kisah bela negara harus bertolak dari tokoh, peristiwa, dan memori kolektif, lalu disusun dengan sudut pandang yang jelas agar sejarah tidak berhenti sebagai arsip, tetapi hidup kembali sebagai cerita,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa penutup feature tidak boleh bersifat menggurui. “Ending feature sebaiknya meninggalkan gema emosional dan ruang renung bagi pembaca, bukan sekadar kesimpulan atau nasihat yang dipaksakan,” tambahnya.
Ragdi F Daye dalam pelatihan tersebut menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam penulisan kisah sejarah. “Sejarah sering kali runtuh di tangan pembaca ketika ia hanya disajikan sebagai deretan angka tahun yang kering, nama-nama besar yang kaku, dan kronologi peristiwa yang dingin. Padahal, di balik setiap peristiwa besar, ada detak jantung manusia, ada air mata, kerentanan, keputusan dilematis, dan impian yang terkubur,” ujar Ragdi F. Daye.
Ia menjelaskan bahwa feature sejarah yang ditulis dengan pendekatan humanis dan gaya sastrawi mampu menghadirkan masa lalu secara lebih hidup dan bermakna bagi pembaca masa kini.
“Melalui feature sejarah, kita tidak sekadar melaporkan masa lalu, tetapi mengundang pembaca masuk ke dalam mesin waktu emosional, agar mereka merasakan bahwa sejarah itu nyata dan dekat dengan pengalaman manusia,”tambahnya.
Pendekatan ini sejalan dengan tujuan kegiatan pengabdian masyarakat yang ingin mendorong peserta menggali kisah-kisah lokal bela negara, bukan hanya sebagai catatan peristiwa, tetapi sebagai narasi inspiratif yang menanamkan nilai perjuangan, pengabdian, dan kebangsaan.
Melalui pelatihan ini diharapkan lahir karya-karya feature yang tidak hanya memiliki kualitas jurnalistik yang baik, tetapi juga berfungsi sebagai media edukasi dan dokumentasi sejarah lokal. Kisah-kisah tersebut diharapkan mampu menanamkan nilai bela negara serta memperkuat identitas kebangsaan di tengah masyarakat.(*)

